Ah, lagi. Aku patah hati lagi untuk kesekian kalinya sejak pertama kali rasa itu menyinggapi hati ini. Rasa nyaman yang selalu kurasa saat tatapan mata sendumu itu bertemu mataku yang minimalis ini, rasa tak ingin beranjak kemanapun saat jarak kita hanya dibatasi oleh rindu yang hanya seujung kuku; walaupun kecil namun akan selalu tumbuh, rasa yang mengajarkanku apa arti kehadiran dan kehilangan.
Dan nampaknya, rasa itu kembali mengajarkanku apa arti kehilangan. Kehilangan tatapan sendu yang selalu membuat candu, kehilangan perhatian-perhatian kecil yang selalu membuatku mencintaimu lebih dalam lagi. Kehilangan kali ini mengajarkan, bahwa tulus saja tidak cukup. Hati yang tulus saja tidak cukup untuk menahanmu untuk tetap berada di sisi. Ada perempuan lain yang memiliki nilai lebih di matamu. Ada perempuan lain yang memiliki segala apa yang tak ku punya. Haha! Jelas saja kau lebih memilih perempuan itu dibanding aku yang hanya sang pungguk yang merindukan bulan.
Laki-laki itu cerdas dalam hal menyakiti hati perempuan. Laki-laki bisa tampil seolah-olah mencintai seorang perempuan, padahal ia tidak mencintainya sama sekali. Dan perempuan itu (terlalu) tulus dalam hal mencintai laki-laki. Perempuan bisa tampil seolah tidak mencintai laki-laki sama sekali, padahal hatinya sangat mencintainya. Entah tulus ataukah terlalu bodoh. Entahlah.
Berbahagialah engkau. Urusi saja wanitamu. Apalah dayaku yang cuma mampu mengagumimu dari jauh ditemani setumpuk rindu yang menggebu di dalam kalbu. Intinya, aku mencintaimu untuk saat ini. Tapi, aku tak mencintaimu setulus dahulu. Aku tak mencintaimu sesungguh dahulu. Hatiku kini mati rasa. Syaraf-syaraf cinta ditubuhku mungkin saja sudah terputus. Mati rasa. Benar-benar mati rasa.
Komentar
Posting Komentar