Beda
"Kita temenan udah lama banget ya, Fy?"
Kebun belakang rumah Rey memang paling pas disaat-saat seperti sekarang. Angin berhembus pelan, daun mulai berguguran dan cuaca tak terlalu terik. Disaat seperti ini, biasanya aku dan Rey suka berbaring di hamparan rumput yang luas. Wangi rumput yang khas, membuat rileks pikiran ini.
"Iya, Rey. Kita temenan hampir 12 tahun. Haha," jawabku diselingi tawa renyah.
"Berarti kita bener-bener temen sejati dong! Temen sejati, Fy!" ujar Rey. Lalu mengembangkan senyumnya.
JLEB.
Temen? Kamu cuma anggep aku temen? batinku dalam hati. Sakit, Rey.
"Fy? Lo bengong?" ujar Rey.
Aku yang sedang terbengong pun kaget.
"Ha? Enggak kok. Hehehe."
Aku berbohong. Aku tak ingin dia mengetahui perasaanku sebenarnya.
"Fy, genggam tangan gue! Cepetan!" Rey menyuruhku menggenggam tangannya. Entah untuk apa.
"Enggak mau ah. Tangan lo kapalan, ntar tangan gue jadi ikut kapalan deh. Hahaha," ujarku. Aku takut ia mengetahui yang sebenarnya jika aku menggenggam tangannya.
"Sial lo!" Rey menjitak kepalaku keras lalu tertawa. Dan kami menghabiskan sore itu dengan bergurau di hamparan rumput yang luas; tanpa Rey tahu bahwa aku diam-diam menyukainya.
Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita. Ya, kita berbeda. Aku mencintaimu amat dalam sedangkan kamu hanya menganggapku teman. Perbedaan yang amat mencolok, namun tak membuatmu jauh dariku.
//iseng buka blog lama, aku menemukan postingan tertanggal Januari 2016. Ya sudah, biarkan aku juga mengarsipkannya disini.//


Komentar
Posting Komentar